Device

All Smart Device.

Blogger From Google

Blogger and Google.

SEO Blogger

Tips SEO Blogger

ICT Education

Information Communication Technology

Minggu, 01 Mei 2016

sejarah onthel


Sejarah Onthel


Sejarah sepeda lawas bermula di Eropa. Sekitar tahun 1790, sebuah sepeda pertama berhasil dibangun di Inggris. Cikal bakal sepeda ini diberi nama Hobby Horses dan Celeriferes.
Keduanya belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu. Bisa dibayangkan, betapa canggung dan besar tampilan kedua sepeda tadi.
Hobby Horses dan juga Celeriferes, belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu.
Meski begitu, mereka cukup menolong orang-orang – pada masa itu – untuk berjalan. Penemuan fenomenal dalam kisah masa lalu sepeda tercipta berkat Baron Karl Von Drais.
Von Drais yang tercatat sebagai mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman berhasil melakukan terobosan penting, yang ternyata merupakan peletak dasar perkembangan sepeda selanjutnya.
Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan.
Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat saat berkeliling kebun. Ia sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama, Draisienne. Beritanya sendiri dimuat di koran lokal Jerman pada 1817.
Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan yang ternyata merupakan peletak dasar perkembangan sepeda selanjutnya. Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat.
Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan yang ternyata merupakan peletak dasar perkembangan sepeda selanjutnya.
Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat.
Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan. Pada tahun 1839, ia menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draisienne.
Untuk menjalankannya, tinggal mengayuh pedal yang ada. Hobby Horses dan juga Celeriferes, belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu.
James Starley membuat sepeda roda depan yang sangat besar (high wheel bicycle) sedang roda belakangnya sangat kecil dan berhasil membuat terobosan dengan mencipta roda berjari-jari dan metode cross-tangent.
James Starley mulai membangun sepeda di Inggris di tahun 1870. Ia memproduksi sepeda dengan roda depan yang sangat besar (high wheel bicycle) sedang roda belakangnya sangat kecil.
Sepeda jenis ini sangat populer di seluruh Eropa. Sebab Starley berhasil membuat terobosan dengan mencipta roda berjari-jari dan metode cross-tangent.
Sampai kini, kedua teknologi itu masih terus dipakai. Buntutnya, sepeda menjadi lebih ringan untuk dikayuh.
Sayangnya, sepeda dengan roda yang besar itu memiliki banyak kekurangan. Ini menjadi dilema bagi orang-orang yang berperawakan mungil dan wanita. Karena posisi pedal dan jok yang cukup tinggi, mereka mengeluhkan kesulitan untuk mengendarainya.
John Kemp Starley membuat sepeda yang lebih aman untuk dikendarai, sudah punya rantai untuk menggerakkan roda belakang dan ukuran kedua rodanya sama.
Sampai akhirnya, keponakan James Starley, John Kemp Starley menemukan solusinya. Ia menciptakan sepeda yang lebih aman untuk dikendarai oleh siapa saja pada 1886.
Sepeda ini sudah punya rantai untuk menggerakkan roda belakang dan ukuran kedua rodanya sama.
Namun penemuan tak kalah penting dilakukan John Boyd Dunlop pada 1888.
Dunlop berhasil menemukan teknologi ban sepeda yang bisa diisi dengan angin (pneumatic tire).
Dari sinilah, awal kemajuan sepeda yang pesat. Beragam bentuk sepeda berhasil diciptakan. Seperti diketahui kemudian, sepeda menjadi kendaraan yang mengasyikkan.
John Boyd Dunlop, berhasil menemukan teknologi ban sepeda yang bisa diisi dengan angin (pneumatic tire).
Foto sepeda onthel di Sibolga, Sumatera Utara
Di Indonesia, perkembangan sepeda banyak dipengaruhi oleh kaum penjajah, terutama Belanda.
Mereka memboyong sepeda produksi negerinya untuk dipakai berkeliling menikmati segarnya alam Indonesia.
Kebiasaan itu menular pada kaum pribumi berdarah biru. Akhirnya, sepeda jadi alat transport yang bergengsi.
Pada masa berikutnya, saat peran sepeda makin terdesak oleh beragam teknologi yang disandang kendaraan bermesin (mobil dan motor), sebagian orang mulai tertarik untuk melestarikan sejarah lewat koleksi sepeda antik.
Dayton Bicycle, Sepeda Onthel Dayton
Rata-rata, sepeda lawas mereka keluaran pabrikan Eropa. Angka tahunnya antara 1940 sampai 1950-an. Dan mereka sangat cermat dalam merawatnya.
Pasa masa kini, sepeda lawas alias kuno makin banyak diminati. Selain sebagai hobi, juga kadang sebagai aset karena semakin kuno akan semakin langka dan mahal.
Kini juga banyak klub-klub dan komunitas sepeda kuno dari berbagai daerah di Indonesia, tersebar dari Sabang hingga Merauke yang jumlahnya ratusan komunitas, itupun hanya yang sempat terpantau dan terdaftar, belum lagi masih banyak yang tidak terdaftar atau ikut organisasi dibawah naungan KOSTI atau singkatan dari Komunitas Sepeda Tua Indonesia.

Namun, biasanya sepeda yang dimiliki klub ini sangat berbeda dengan sepeda kuno yang banyak dijadikan ojek. Kalau ojek-ojek itu kebanyakan sepeda model tahun 80-90an keluaran Cina atau Jepang.
Sedangkan pemilik anggota klub sepeda ontel kebanyakan memiliki sepeda yang jauh lebih kuno dan di dominasi oleh buatan Eropa, terutama Belanda dan Inggris.
Di masyarakat kita, sepeda lawas itu dikenal dengan beberapa sebutan, seperti ontel, jengki, kumbang, sundung, sapeda baheula dan masih banyak julukan kata-kata lainnya seantero Indonesia. (SpedaOntel.wordpress.com)


sumber;https://spedaontel.wordpress.com/about/

history of triumph

Merek Triumph sudah lama dikenal sebagai sepeda motor asal Inggris. Sejak pertama kali diproduksi pada 1902, kemudian motor inipun beredar ke seluruh dunia hingga sampai ke Indonesia. Hanya saja di tahun 1970-an motor Triumph sudah tidak lagi masuk ke Indonesia, dan kemudian di tahun 2012 merek Triumph kembali muncul di Tanah Air (artikel ini).
PT Triumph Motorcycles Indonesia pada Maret 2014 secara resmi ditunjuk menjadi prinsipal pemegang merek untuk pasar Indonesia (artikel ini), dan baru-baru ini menyatakan secara resmi akan mendatangkan 12 model terbaru Triumph Motorcycles ke Indonesia pada acara launching sekitar tanggal 17 September 2014 mendatang.
Menurut sejarah, sepeda motor pertamanya di tahun 1901 menggunakan mesin silinder tunggal 2.25 bhp, automatic inlet valve dan baterai/coil ignition buatan Minerva Belgia. Mesin ini ditumpangkan pada rangka sepeda buatan engineer Maurice Johann Schulte, yang sebelumnya juga dicoba menggunakan mesin Fahnir dan JA Prestwich (JAP).
Tiga tahun kemudian di tahun 1904, Triumph memperkenalkan sepeda motor dengan mesin buatan sendiri, yang didesain Schulte dan engineer Charles Hathaway. Sepeda motor bermesin side valve 300 cc dan bertenaga 3bhp itu mampu digenjot dengan kecepatan 45-60 km/jam. Dijual dengan harga 45 Poundsterling, produksinya mencapai 250 unit per tahun.
Pada tahun 1907, lebih dari 1.000 unit Triumpph diproduksi. Mesin baru 450 cc bertenaga 3,5bhp diperkenalkan. Pembalap Jack Marshall dan Freddie Hulbert yang mengendarai Triumph, meraih peringkat ke-2 dan ke-3 pada balap motor pertama TT Race. Setahun kemudian, Jack Marshall memperbaiki peringkatnya menjadi juara pertama TT Race dan dinobatkan sebagai The Isle of Man 1908. Pembalap Triumph lainnya menempati posisi ke-3, 4, 5, 7 dan 10.
Inovasi dan desain terobosan yang dilahirkan Triumph, telah mencetak banyak ikon yang terus dikenang, seperti Triumph Bonneville dan Scrambler yang masih diproduksi sejak tahun 1959 hingga saat ini. Triumph semakin memantapkan diri sebagai produsen sepeda motor yang disegani. Salah satu inovasi penting lainnya adalah mesin 3 silinder Triple Engine (1965) yang lebih stabil, ringan dan bertenaga.
Popularitas Triumph juga ditunjukkan dari bintang-bintang Hollywood yang memilih Triumph sebagai sepeda motor koleksinya seperti Steve McQueen dan Marlon Brando. Triumph juga mengisi film layar lebar sebagai properti, seperti  Triumph Daytona 600 (Everything or Nothing, James Bond 2003). Triumph telah menjelma sebagai “mainan para pria” dan menjadi produk gaya hidup.
Pada 1983, Triumph Motorcycles Ltd diambilalih oleh John Bloor, pengusaha Inggris yang ingin mempertahankan Triumph sebagai sepeda motor legendaris Inggris. Untuk membawa kembali Triumph ke puncak kejayaannya, filosofi For the Ride disematkan untuk Triumph, yang berarti enak dikendarai.
Ada 3 elemen penting yang menjadikan Triumph sebagai sepeda motor yang enak dikendarai, yaitu penampilan yang elegan, desain konstruksi yang ergonomi dan kuat, serta performa mesin yang tak diragukan. Salah satu keunikan yang dirasakan pengguna Triumph, diantaranya adalah stabilitas. Pada kecepatan serendah 1-2km/jam, Triumph dapat terus dilaju tanpa pengguna harus menurunkan kaki.
Untuk mendukung filosofi For the Ride, Bloor mencurahkan perhatian yang tinggi pada desain dan produksi. Sekitar 50 persen dari 2.000 karyawannya, bekerja pada bidang Research & Development. Hasilnya adalah 26 model—dari semula 6 model—dengan ragam produk yang luas, mulai dari adventure, classic, cruiser, roadster, supersports dan touring.
Triumph berkembang menjadi produsen sepeda motor premium dengan lini produk paling lengkap. Penjualannya di seluruh dunia terus meningkat, mencapai rekor baru lebih dari 50 ribu unit (2013). Di negeri asalnya, Triumph menjadi brand maker nomor satu dengan pangsa pasar 19 persen.
Popularitas itu melahirkan banyak penggemar di seluruh dunia, termasuk bintang-bintang terkenal seperti David Beckham. Bintang sepak bola itu memilih Triumph Scrambler, seperti yang digunakan saat berkelana di jalan pedesaan di Brazil bersama temannya  Anthony Mandler, David Gardner dan Derek White beberapa waktu lalu.
Inovasi dan gaya hidup yang ditanamkan Triumph adalah bekal yang cukup bagi pengembangan Triumph di Indonesia. Bersama penggemarnya di seluruh dunia, penggemar Triumph di Indonesia juga akan merasakan filosofi yang dipegang teguh oleh seluruh karyawan yang memproduksi Triumph: For the Ride.